The World is grey, the mountain’s old

The forge’s fire is ashen-cold.

No harp is wrung, no hammer falls,

The darkness dwells in Durin’s hall.

The shadow lies upon his tomb

In Moria, in Kazad-dûm…”

~J.R.R. Tolkien~


“The life of our city is rich in poetic and marvelous subjects.

We are enveloped and steeped as though in an atmosphere of the marvelous;

but we do not notice it.”

~Charles Baudelaire~


Cities, like dreams - are made of desires and fears; even if the thread of their discourse is secret,

their rules are absurd, their perspectives deceitful, and everything conceals something else...

~Italo Calvino~

Thursday, January 20, 2011

Lourdes, Penghujung Tahun

[Click here for English version] 
Kosong. Langit abu-abu hampir gelap berhias sekilas lengkung cumulus,  dan udara basah yang penuh titik kecil air tetap terasa kering. Ranting-ranting kesepian mencuat menantang langit di sepanjang pedestal, mengangguk setuju pada berang-berang yang pergi menjauh bulan lalu. Pengukur suhu mulai membeku, bergantung di pojok dinding restoran di samping stasiun kereta. Di depannya, sang empunya bersiap pulang untuk kesekian kalinya.

Celana kain coklat kehijauan menggemuk padat oleh banyaknya lapisan kaus kaki dan pakaian dalam musim dingin. Di ujungnya, sepatu boot kulit  bersol karet menipis terkikis aspal dan salju yang turun minggu lalu. Jaket kulit warna kemiri berleher tinggi yang dipakainya jelas bukan sekedar pelapis tubuh, dengan syal tebal sewarna menutupi separuh bulu binatang yang melapis kerah; tinggi hingga dagu. Gesturnya yang terhambat mengkonfirmasi tebalnya lapisan pakaian di bawah jaket. Sarung tangan dan penutup kepala rajutan melengkapi kostumnya hari ini; meninggalkan hanya wajah dan sedikit rambut di atas keningnya bersentuhan dengan udara terbuka yang dinginnya mengiris. Napasnya yang mengepul keputihan seperti asap rokok yang ditiup tertahan. Dengan sebuah lambaian pada penjaga kios di stasiun, ia melangkah ke arah jalan yang menurun.

Pedestal di bawah kakinya lembab oleh basahnya udara, menghapus tapak-tapak bayangan kesibukan di kota tadi siang. Harum kayu dari barisan cuat batang  di sepanjang jalan merebak dari embun yang menetes. Harum yang biasanya tertelan oleh ratusan parfum dan aroma tubuh-tubuh jutaan peziarah itu, kini bebas merangsek terbawa semilir dan bergelantungan di repih-repih udara yang sepi. Siapa saja dapat merasakan sepinya Pyrenees dan wangi salju di atas sana, hanya dengan meresapi nafasnya yang berasap di sudut-sudut jalan ini. Di sela-sela sepinya aroma itu, gurihnya wangi salmon panggang dan remah roti yang ringan keluar  dari restoran sebuah hotel yang lampunya menjadi aksen di tengah kekosongan. Sesekali tampak pejalan kaki yang berjalan menembus dingin dan masuk untuk sekedar menghangatkan tangannya di lobby hotel – atau mereka yang masuk untuk mencari semangkuk sup panas.

Di ruang-ruang dengan penghangat, mereka menyajikan menu set atau ala carte untuk para peziarah yang lapar dan kedinginan. Rombongan-rombongan kecil dari belahan dunia seberang dengan pemandu dan pastor mereka sendiri, mereka yang datang untuk menyepi dan berkontemplasi, mereka yang putus asa atau menggantungkan harapan pada keyakinan; atau mereka yang keheranan melihat sepinya tanah ini menjelang Natal.

Bunyi denting pisau dan garpu yang beradu dengan piring, sendok-sendok keperakan berputar di cangkir keramik, melagukan nada-nada tinggi yang konstan. Di atasnya, suara obrolan-obrolan ringan di tiap meja menambahkan nada rendah yang berayun. Mereka yang tertawa dan bergurau karena cerita di bus tadi siang, seorang kakek yang menggoda istrinya setelah puluhan tahun pernikahan yang tak berwarna, mereka yang berkomentar tentang segelas sauvignon blanc di tangan, atau mereka yang memilih cuaca dan udara dingin sebagai tema pengantar makan. Sementara pelayan restoran yang selalu kekurangan tenaga berjalan cepat-cepat dari meja ke meja. Sesekali dengan potage crème de champignons di kedua tangan, sesekali dengan canard a l’orange di kiri dan gratin de saumon au vin blanc di kanan. Di seberang ruangan, teman sekerjanya menuang cabernet sauvignon untuk pasangan separuh baya yang sibuk dengan potongan entrecote di piring mereka. Di sekeliling bar, beberapa wanita berambut putih bercanda dan bercerita, dengan tongkat penyangga atau kursi roda di pinggir kursi dan segelas besar bir atau cokelat panas di meja.

Di luar sana, malam menjelang, bulan tak nampak, pintu-pintu terkunci, jalan-jalan tanpa kendaraan. Butir-butir putih turun melapis keanggunan Pyrenees, menanti datangnya mentari. Sementara batu-batu gua yang dingin tetap kokoh di tempatnya, rangkaian ivy berdaun lebat kegirangan di musim dingin, dan aliran air suci bergemericik melantunkan litani pada Sang Empunya.

Barcelona, Januari 2011

Cities Visited