The World is grey, the mountain’s old

The forge’s fire is ashen-cold.

No harp is wrung, no hammer falls,

The darkness dwells in Durin’s hall.

The shadow lies upon his tomb

In Moria, in Kazad-dûm…”

~J.R.R. Tolkien~


“The life of our city is rich in poetic and marvelous subjects.

We are enveloped and steeped as though in an atmosphere of the marvelous;

but we do not notice it.”

~Charles Baudelaire~


Cities, like dreams - are made of desires and fears; even if the thread of their discourse is secret,

their rules are absurd, their perspectives deceitful, and everything conceals something else...

~Italo Calvino~

Tuesday, December 7, 2010

Fuzhou: Memoir, 2007

Keterbatasan bukanlah alasan, ketika cerobong-cerobong setinggi 4 meter bertabrakan dengan beton tinggi menjulang yang memakan jarak pandang. Di sini bata-bata merah tumpuk-menumpuk membentuk jalinan utuh yang tak bisa terlalu tinggi, sementara di sana berdiri puluhan tower dengan kaca dan betonnya. Jalan-jalan kecil dan gang berliku-liku di sini, mengantar pada teras-teras luas yang dipenuhi kayu bakar dan bahan makanan, sementara di sana pedestrian besar membentang sebelum jalan raya yang dipadati kendaraan berkepul-kepul. 

Di sini, ibu-ibu mencuci dengan air yang digali dari sumur dalam dan menjemurnya di pekarangan bersama ayam dan bebek; di sana bapak-bapak mencuci kemeja mereka di washtafel sambil menunggu microwavenya berbunyi dan menggantung jemurannya di depan jendela di lantai 20. Di sini, kakek-nenek berjalan berdampingan perlahan-lahan sambil melihat seorang pemuda yang memancing di kejauhan dan menikmati hijaunya gunung di ujung jalan setapak; di sana, kakek-kakek menunggui sang nenek di ranjang kecil dengan termos di satu sisi dan infus di sisi lainnya. 

Di sini, harum nasi hangat bercampur dengan pekat minyak wijen dan kental kaldu ayam, ditengahi bau tanah basah dan rumput yang ditimpa embun pagi. Di sana, gurih sapi panggang bercampur dengan manisnya saus tomat dan ringan aroma amaretto ditengahi bau aspal dari jalanan, semen basah dan seringai bau got. Di sini, bunyi seruling seorang pemuda sedang menarik hati gadis pujaannya yang tinggal tidak jauh dari simpangan jalan di depan rumahnya; di sana, bunyi pemadat beton bercampur dengan klakson mobil yang membuat telinga jengah.

Di sini, matahari masih terbit di timur dan tenggelam di Barat. Di sana, matahari masih juga terbit di Timur dan tenggelam di Barat.


Fuzhou, 2007.

Beijing: Memoir, 2007

[Click here for English version]


Babel

Sebuah keangkuhan yang dibayar begitu mahal

Sebuah kelumpuhan atas persepsi yang menuntut eksistensi

Sebuah tamparan keras bagi kemanusiaan

Babel

Ketika manusia terlihat sebagai dirinya yang menyejati

Di antara kepungan penyamarataan yang membuat gerah

Tentang globalisasi dan penipuan realita

Babel

Perhelatan dari kepercayaan yang menumbuhkan keyakinan

Atau sekedar pertanyaan tentang kenyataan

Babel

Sebuah sentuhan telunjuk tangan kiriNya



Lapangan-lapangan lebar yang bertanah rata, dengan perkerasan atau vegetasi yang disusun sedemikian rupa. Pohon-pohon willow berderet di sepanjang jalan, berdampingan dengan penerangan umum bertiang tinggi dan tiang listrik yang bersambung-sambungan. Pucuk-pucuk daun yang mulai semi ditimpa embun berkilap keperakan yang hanya disangga keanggunan angin, bergoyang ringan dengan titik-titik tunas barunya. Beberapa puntung rokok bergelimpangan di tanah berpasir yang dibiarkan terbuka di bawah pohon willow, menunggu pemulung sampah yang datang setiap pagi.

Taman kota dipenuhi bunga plum dan deretan bao bab balita, dengan tangan-tangan bergelantungan seperti akar terbalik yang mencuat ke atas tanah. Jendela-jendela penuh embun abu-abu putih, sesekali terlihat pula sang ibu yang melongok sambil menggantung pakaian jemurannya, bercakap pula dengan ibu-ibu lain di atas dan bawahnya. 

Bau tanah bertebaran, bercampur dengan harum ringan teh mawar dan pekat asap rebusan daging, kental lumeran lemak dan halusnya aroma roti kukus. Di ujung gelombang bau itu bertemu pula kerasnya bau karbit dan uap bensin yang baru masuk tabungnya, amis air sungai dan putus-putus aroma got dari pembuangan akhir.

Sementara seorang pemulung bergerak lancar di pinggir jalan umum dengan capit di tangan kanan dan stir di tangan kiri, mengendarai sepeda kecil dengan gerobak di belakang. Kakek tua di atas trotoar di sebelahnya mengenakan celana tua berbahan karung, sepatu kulit berumur puluhan tahun dengan tali kusut yang basah oleh genangan air, kemeja biru lengan panjang dengan jaket biru tua, sebuah topi pet yang menghadap belakang dengan tutup telinga dan sarung tangan yang kuyub oleh guyuran hujan tadi malam di jemuran. Matanya yang kecil bertambah kecil karena kerutan kening dan senyum yang kadang mengembang, akibat obrolan singkatnya dengan seorang turis di persimpangan jalan. 

Di depan mereka, puluhan mobil lewat setiap menit; yang santai dan terburu-buru, angkutan umum dan pribadi, dengan penduduk lokal atau turis di dalamnya. Roda dan ban melaju di atas aspal hitam berkilat-kilat, yang basah oleh hujan dan sedikit samar tertutup debu yang turun tadi malam. Berdiri di banyak persimpangan, kolom-kolom besar penahan jembatan penyeberangan, dan interchangenya ke setiap badan trotoar. 

Di ujung-ujung jalan itu juga berdiri berderet-deret mereka yang menunggu taxi atau bus umum, menunggu jemputan atau lampu merah penyeberangan. Sebagian dengan sepatu boot tinggi, celana panjang dan kemeja lengan panjang, jas atau jaket tebal panjang yang diikat kuat-kuat untuk menahan dingin yang belum hilang. Sebuah buku besar atau map di tangan kiri, tas jinjing atau ransel tersampir di tangan kanan, dilengkapi gelas kopi, teh atau sekedar air panas yang mengepulkan asap putih berkilas-kilas. Sebagian lain berpakaian dengan  gayanya sendiri, menatap menerawang ke arah-arah berbeda sambil bercakap atau bermain dengan angan-angan yang tidak bersama badan. 

Orang-orang dengan segala ukuran, jenis dan macam ini mungkin bertemu nanti siang di sebuah gedung, atau di gedung yang lain, menaiki tangga marmer yang sama, atau memegang railing besi yang sama; menginjak lift yang sama, atau menghirup udara AC yang sama. Sementara waktu bergulir tetap, serasa berkejaran dengan jam dinding.

Di sini orang-orang mungkin selamanya bertanya, apa yang dilakukannya hari ini.

Di sini tanaman-tanaman mungkin bertanya, hingga kapan matahari ini bertahan kali ini.

Di sini jalan dan aspal mungkin bertanya, kapan hujan akan turun lagi.

Di sini gedung-gedung mungkin bertanya dan bercanda sepanjang waktu antar sesamanya.


Beijing, 2007.

Shanghai: Memoir, 2007

[Click here for English version]


Gang-gang kecil berpotongan di sana-sini; dengan toko-toko kecil berderet sepanjang jalan. Lini panjangnya dibatasi tangga-tangga kecil, penuh kaki-kaki yang mencoba saling mendahului. Koridor panjang ini kadang mengenal udara bebas, dengan atap-atap cokelat berhias di kanan kiri, dan papan-papan kayu dengan kaligrafi. Di ujungnya, simpang-simpangan berkelindan; beralur-alur melabirin mengantar lautan manusia menuju persimpangan lain atau pintu lain menuju jalan besar. 

Entah Daedalus mana yang dahulu mencipta taman vihara ini hingga jalinannya kini begitu rapat dilengkapi putaran lautan manusia. Di sini, semua barang bertemu pembelinya: kerajinan tangan dan benda antik asli atau palsu, souvenir dan pernak-pernik cantik, seni kaligrafi hingga lukisan detail di dalam guci setinggi 7cm, makanan awetan hingga permen dan gulali, obat tradisional hingga teh berusia puluhan tahun, sepatu kain hingga sabuk kulit berkilat-kilat, belum lagi baju obralan musim dingin dan buatan boutique yang tidak mungkin ditawar-tawar. 

Aroma kopi pekat dan cream kental cinnamon yang manis merebak dari lengan seorang barista Starbucks di tengah pasar;  campur aduk jadi satu dengan lelehan karamel dan gula-gula di tangan pedagang keliling, harum gurih ayam panggang dan burger keju dari dapur McDonald, dan bau kaldu kepiting bercampur daging babi dari lubang xiao lung pao. Di depan kedai, ratusan orang antre berjejer menunggu giliran mengambil pesanan xiao lung pao berlusin-lusin. 

Segala manusia berbicara segala bahasa:  Mandarin, Kanton, Kongfu, Jepang, Korea, India, Thai dan Melayu; hingga Inggris, Perancis, Jerman, Belanda, Itali, atau Spanyol.  Yang satu menawar yang lain ditawar. Yang satu memanggil yang lain menjawab. Suara-suara tukang yang bekerja di beberapa ketinggian menambah lengkapnya hiruk-pikuk, belum lagi denting bel dari sepeda dan klakson mobil dari jalan besar di luar kompleks. Mungkin ini sebabnya mereka bilang, turis manapun harus pergi ke pasar Shanghai yang satu ini.



Shanghai, 2007.

Cities Visited