Keterbatasan bukanlah alasan, ketika cerobong-cerobong setinggi 4 meter bertabrakan dengan beton tinggi menjulang yang memakan jarak pandang. Di sini bata-bata merah tumpuk-menumpuk membentuk jalinan utuh yang tak bisa terlalu tinggi, sementara di sana berdiri puluhan tower dengan kaca dan betonnya. Jalan-jalan kecil dan gang berliku-liku di sini, mengantar pada teras-teras luas yang dipenuhi kayu bakar dan bahan makanan, sementara di sana pedestrian besar membentang sebelum jalan raya yang dipadati kendaraan berkepul-kepul.
Di sini, ibu-ibu mencuci dengan air yang digali dari sumur dalam dan menjemurnya di pekarangan bersama ayam dan bebek; di sana bapak-bapak mencuci kemeja mereka di washtafel sambil menunggu microwavenya berbunyi dan menggantung jemurannya di depan jendela di lantai 20. Di sini, kakek-nenek berjalan berdampingan perlahan-lahan sambil melihat seorang pemuda yang memancing di kejauhan dan menikmati hijaunya gunung di ujung jalan setapak; di sana, kakek-kakek menunggui sang nenek di ranjang kecil dengan termos di satu sisi dan infus di sisi lainnya.
Di sini, harum nasi hangat bercampur dengan pekat minyak wijen dan kental kaldu ayam, ditengahi bau tanah basah dan rumput yang ditimpa embun pagi. Di sana, gurih sapi panggang bercampur dengan manisnya saus tomat dan ringan aroma amaretto ditengahi bau aspal dari jalanan, semen basah dan seringai bau got. Di sini, bunyi seruling seorang pemuda sedang menarik hati gadis pujaannya yang tinggal tidak jauh dari simpangan jalan di depan rumahnya; di sana, bunyi pemadat beton bercampur dengan klakson mobil yang membuat telinga jengah.
Di sini, matahari masih terbit di timur dan tenggelam di Barat. Di sana, matahari masih juga terbit di Timur dan tenggelam di Barat.
Fuzhou, 2007.
No comments:
Post a Comment