[Click here for English version]
Babel
Sebuah keangkuhan yang dibayar begitu mahal
Sebuah kelumpuhan atas persepsi yang menuntut eksistensi
Sebuah tamparan keras bagi kemanusiaan
Babel
Ketika manusia terlihat sebagai dirinya yang menyejati
Di antara kepungan penyamarataan yang membuat gerah
Tentang globalisasi dan penipuan realita
Babel
Perhelatan dari kepercayaan yang menumbuhkan keyakinan
Atau sekedar pertanyaan tentang kenyataan
Babel
Sebuah sentuhan telunjuk tangan kiriNya
Lapangan-lapangan lebar yang bertanah rata, dengan perkerasan atau vegetasi yang disusun sedemikian rupa. Pohon-pohon willow berderet di sepanjang jalan, berdampingan dengan penerangan umum bertiang tinggi dan tiang listrik yang bersambung-sambungan. Pucuk-pucuk daun yang mulai semi ditimpa embun berkilap keperakan yang hanya disangga keanggunan angin, bergoyang ringan dengan titik-titik tunas barunya. Beberapa puntung rokok bergelimpangan di tanah berpasir yang dibiarkan terbuka di bawah pohon willow, menunggu pemulung sampah yang datang setiap pagi.
Taman kota dipenuhi bunga plum dan deretan bao bab balita, dengan tangan-tangan bergelantungan seperti akar terbalik yang mencuat ke atas tanah. Jendela-jendela penuh embun abu-abu putih, sesekali terlihat pula sang ibu yang melongok sambil menggantung pakaian jemurannya, bercakap pula dengan ibu-ibu lain di atas dan bawahnya.
Bau tanah bertebaran, bercampur dengan harum ringan teh mawar dan pekat asap rebusan daging, kental lumeran lemak dan halusnya aroma roti kukus. Di ujung gelombang bau itu bertemu pula kerasnya bau karbit dan uap bensin yang baru masuk tabungnya, amis air sungai dan putus-putus aroma got dari pembuangan akhir.
Sementara seorang pemulung bergerak lancar di pinggir jalan umum dengan capit di tangan kanan dan stir di tangan kiri, mengendarai sepeda kecil dengan gerobak di belakang. Kakek tua di atas trotoar di sebelahnya mengenakan celana tua berbahan karung, sepatu kulit berumur puluhan tahun dengan tali kusut yang basah oleh genangan air, kemeja biru lengan panjang dengan jaket biru tua, sebuah topi pet yang menghadap belakang dengan tutup telinga dan sarung tangan yang kuyub oleh guyuran hujan tadi malam di jemuran. Matanya yang kecil bertambah kecil karena kerutan kening dan senyum yang kadang mengembang, akibat obrolan singkatnya dengan seorang turis di persimpangan jalan.
Di depan mereka, puluhan mobil lewat setiap menit; yang santai dan terburu-buru, angkutan umum dan pribadi, dengan penduduk lokal atau turis di dalamnya. Roda dan ban melaju di atas aspal hitam berkilat-kilat, yang basah oleh hujan dan sedikit samar tertutup debu yang turun tadi malam. Berdiri di banyak persimpangan, kolom-kolom besar penahan jembatan penyeberangan, dan interchangenya ke setiap badan trotoar.
Di ujung-ujung jalan itu juga berdiri berderet-deret mereka yang menunggu taxi atau bus umum, menunggu jemputan atau lampu merah penyeberangan. Sebagian dengan sepatu boot tinggi, celana panjang dan kemeja lengan panjang, jas atau jaket tebal panjang yang diikat kuat-kuat untuk menahan dingin yang belum hilang. Sebuah buku besar atau map di tangan kiri, tas jinjing atau ransel tersampir di tangan kanan, dilengkapi gelas kopi, teh atau sekedar air panas yang mengepulkan asap putih berkilas-kilas. Sebagian lain berpakaian dengan gayanya sendiri, menatap menerawang ke arah-arah berbeda sambil bercakap atau bermain dengan angan-angan yang tidak bersama badan.
Orang-orang dengan segala ukuran, jenis dan macam ini mungkin bertemu nanti siang di sebuah gedung, atau di gedung yang lain, menaiki tangga marmer yang sama, atau memegang railing besi yang sama; menginjak lift yang sama, atau menghirup udara AC yang sama. Sementara waktu bergulir tetap, serasa berkejaran dengan jam dinding.
Di sini orang-orang mungkin selamanya bertanya, apa yang dilakukannya hari ini.
Di sini tanaman-tanaman mungkin bertanya, hingga kapan matahari ini bertahan kali ini.
Di sini jalan dan aspal mungkin bertanya, kapan hujan akan turun lagi.
Di sini gedung-gedung mungkin bertanya dan bercanda sepanjang waktu antar sesamanya.
Beijing, 2007.
No comments:
Post a Comment