The World is grey, the mountain’s old

The forge’s fire is ashen-cold.

No harp is wrung, no hammer falls,

The darkness dwells in Durin’s hall.

The shadow lies upon his tomb

In Moria, in Kazad-dûm…”

~J.R.R. Tolkien~


“The life of our city is rich in poetic and marvelous subjects.

We are enveloped and steeped as though in an atmosphere of the marvelous;

but we do not notice it.”

~Charles Baudelaire~


Cities, like dreams - are made of desires and fears; even if the thread of their discourse is secret,

their rules are absurd, their perspectives deceitful, and everything conceals something else...

~Italo Calvino~

Tuesday, December 7, 2010

Shanghai: Memoir, 2007

[Click here for English version]


Gang-gang kecil berpotongan di sana-sini; dengan toko-toko kecil berderet sepanjang jalan. Lini panjangnya dibatasi tangga-tangga kecil, penuh kaki-kaki yang mencoba saling mendahului. Koridor panjang ini kadang mengenal udara bebas, dengan atap-atap cokelat berhias di kanan kiri, dan papan-papan kayu dengan kaligrafi. Di ujungnya, simpang-simpangan berkelindan; beralur-alur melabirin mengantar lautan manusia menuju persimpangan lain atau pintu lain menuju jalan besar. 

Entah Daedalus mana yang dahulu mencipta taman vihara ini hingga jalinannya kini begitu rapat dilengkapi putaran lautan manusia. Di sini, semua barang bertemu pembelinya: kerajinan tangan dan benda antik asli atau palsu, souvenir dan pernak-pernik cantik, seni kaligrafi hingga lukisan detail di dalam guci setinggi 7cm, makanan awetan hingga permen dan gulali, obat tradisional hingga teh berusia puluhan tahun, sepatu kain hingga sabuk kulit berkilat-kilat, belum lagi baju obralan musim dingin dan buatan boutique yang tidak mungkin ditawar-tawar. 

Aroma kopi pekat dan cream kental cinnamon yang manis merebak dari lengan seorang barista Starbucks di tengah pasar;  campur aduk jadi satu dengan lelehan karamel dan gula-gula di tangan pedagang keliling, harum gurih ayam panggang dan burger keju dari dapur McDonald, dan bau kaldu kepiting bercampur daging babi dari lubang xiao lung pao. Di depan kedai, ratusan orang antre berjejer menunggu giliran mengambil pesanan xiao lung pao berlusin-lusin. 

Segala manusia berbicara segala bahasa:  Mandarin, Kanton, Kongfu, Jepang, Korea, India, Thai dan Melayu; hingga Inggris, Perancis, Jerman, Belanda, Itali, atau Spanyol.  Yang satu menawar yang lain ditawar. Yang satu memanggil yang lain menjawab. Suara-suara tukang yang bekerja di beberapa ketinggian menambah lengkapnya hiruk-pikuk, belum lagi denting bel dari sepeda dan klakson mobil dari jalan besar di luar kompleks. Mungkin ini sebabnya mereka bilang, turis manapun harus pergi ke pasar Shanghai yang satu ini.



Shanghai, 2007.

No comments:

Post a Comment

Cities Visited